Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Aceng Dan Rusaknya Citra Islam

Written By Unknown on Rabu, 04 Juni 2014 | 23.44

Catatan Edy Supriatna - Pidato Menteri Agama, Suryadharma Ali, sempat terhenti beberapa saat. Pasalnya, ketika ia menyebut nama Aceng Fikri, Bupati Garut, yang kasusnya tengah ramai hingga menjadi buah bibir lantaran pernikahan kilatnya dengan Fani Octora, disambut tawa riuh para hadirin.

"Persoalan Aceng...," ucap SDA, sapaan akrab Menag Suryadharma Ali, di atas podium. Belum selesai ia melanjutkan kalimatnya, hadirin pun tertawa. Barulah setelah suara bagai kerumunan tawon itu mereda, pidato berlanjut.

Katanya lagi, kasus Aceng, telah menyudutkan umat Islam. "Tentu pula citra Islam," kata Ali. Hadirin pun masih ada yang bisik-bisik. Apalagi santri putri, sesama mereka menahan tawa sambil menutup mulut.

Fakta bahwa pemberitaan bukan sekedar gosip yang digosok makin sip, kata warga Ciamis, Asep, yang ikut hadir pada pidato tersebut, bukanlah hal baru. Terlebih pelakunya pejabat dan memancing emosi lantaran korban adalah wanita yang seharusnya mendapat perlindunga sebagaimana mestinya.

Itulah gambaran tentang Aceng Fikri, Bupati Garut, Aceng HM Fikri (40),  yang melakukan nikah kilat dengan Fany Octora. Dia menikah siri hanya seusia empat hari saja.

Menag Suryadharma Ali ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manon Jaya, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Cibeureum, Tasikmalaya dan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Jumat (21/12) banyak dicecer wartawan seputar nikah siri Aceng Fikri. 

Bagi warga Jawa Barat, ketiga pondok pesantren yang dikunjungi Menteri Agama memang tergolong dikenal. Terlebih, para santrinya sudah memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan di masyarakat. 

Jadi, tak heran ketika hukum-hukum Islam, khususnya yang menyangkut perkawinan disinggung, tentu saja para santri itu tahu benar bagaimana seharusnya perkawinan yang sakral dipatuhi. Sikap para santri, para undangan dengan segala pengetahuannya tentang hukum Islam tercermin ketika menyikapi pidato SDA pada pertemuan akbar pada pembukaan reuni akbar Pondok Pesantren Darussalam, Jumat (21/12).

Menag Suryadharma Ali dalam pidatonya yang cukup panjang, sempat menyelipkan kasus Aceng Fikri, bupati Garut yang kini kedudukannya bagai di ujung tanduk. Publik sudah menghendaki yang bersagkutan segera lengser dari jabatannya. 

Sebelumnya Menag bertutur tentang posisi umat Islam yang kerap diberi stigma negatif. Islam disebut sebagai agama yang cenderung dengan kekerasan, berdarah dan sebagainya. Umat Islam menghadapi hal itu seperti kebakaran jenggot dan bekerja keras untuk meluruskannya.

Umat Islam antikekerasan, radikalisme dan jauh dari bentuk kekerasan lainnya. Agama Islam makin terpojok ketika marak di berbagai tempat aksi terorisme. Karena itu ia minta agar umat Muslim menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam agama Islam hal itu tidak ada. Islam adalah pembawa agama kedamaian, rahmatan lil alamin.
Sudutkan Islam

Kasus Aceng, katanya, yang ikut disudutkan adalah Islam-nya. Karena itu para alumnis Darussalam Ciamis Jawa Barat harus memberikan pandangan yang baik terhadap umat lainnya. Rekomendasi dari pertemuan alumni itu harus memberikan manfaat bagi umat Islam ke depan.

Menag Suryadharma Ali seusai bertemu dengan Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Cecep Ridwan Bustami, pun sempat menjelaskan tentang nikah siri yang dilakukan Aceng. Katanya, bahwa dalam Islam perkawinan adalah lembaga yang sakral. Suci. Hal itu harus dihormati, siapa pun pelakunya. Tetapi jika itu dilakukan dengan cara nikah siri, hal itu menjadi dilematis.

Secara agama sah, karena ada saksi dari kedua keluarga. Dan kemudian harus dicatatkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Tetapi, yang dilakukan Aceng, hanya beberapa hari kemudian dilakukan perceraian. Perceraian adalah perbuatan yang tak disukai Allah dan harus dinyatakan halal.

Tetapi, lanjut dia lagi, cara perceraian itu juga harus dilakukan dengan mengindahkan etika yang ada. Bukan dengan menyampaikan dengan pesan singkat melalui telepon genggam (sms). "Ketika hendak nikah, mintanya baik-baik. Kenapa bercerai tidak dilakukan dengan cara yang baik pula," Ali sambil melempar tawa.

Tindakan bupati seperti itu jelas merendahkan derajat perempuan. Tindakan itu sangat tidak terpuji. Padahal, semua umat Islam bersepakat untuk menjaga martabat wanita Sebaiknya, jika ingin menikah lagi hendaknya menginahkan aturan yang ada. Islam mengajarkan jika menikah lagi minta izin isteri pertama.

Kasus semacam ini, menurut Suryadharma Ali kerap terjadi di berbagai tempat. Kawin siri memang tak dilarang karena tak melanggar prinsip agama. Tetapi karena pelakunya seorang pejabat, sudah sepatutnya yang bersangkutan mengindahkan aturan yang ada pula.

Menjawab kemungkinan Kementerian Agama mengeluarkan aturan atau surat edaran bahwa setiap pejabat dilarang menikah lagi. Atau sekurangnya mengeluarkan imbauan, ia mengatakan, pihaknya tak memiliki otoritas untuk itu. Itu diluar kewenangan Kementerian Agama. Itu
 domain Majelis Ulama Indonesia (MUI). (skd)

23.44 | 0 komentar

PAUD, Komitmen Depdiknas Yang Masih Perlu Sosialisasi


Catatan Edy Supriatna-PAUD, Komitmen Depdiknas Yang Masih Perlu Sosialisasi Oleh Edy Supriatna Sjafei Jakarta. Fatimah dari belakang setir mobilnya memanggil Wati. Setelah memarkir mobil di sisi kantor sekolah bersangkutan, Fatimah dan Wati pun terlibat pembicaraan hangat. Apalagi, Wati menuturkan bahwa baru saja berselisih paham dengan Direktur Sekolah Al-Falah, drg. Wismi, perihal ditegur lantaran memarahi anaknya yang berada dalam lingkungan kelompok bermain (play group). Ibu Wati (30) terlihat "ngedumel" sambil meninggalkan halaman sekolah Al-Falah. Namun, langkahnya terhenti di pintu gerbang karena rekannya, Fatimah (32), yang hendak menjemput puteranya, baru saja melintas masuk.
Fatimah maklum bahwa rekannya yang sama-sama satu kantor itu punya temperamen tinggi. Setelah seluruh kekesalannya dikemukakan, Fatimah menjelaskan secara rinci dengan pendekatan psikologi anak kepada Wati. Belum sempat Fatimah menjelaskan, Wati tetap saja "nyerocos" melontarkan ketidaksepahamannya dengan kebijakan Ibu Wismi. "Masa' anak tak boleh dimarahi, diperintah dan dilarang?," katanya bernada tinggi.

Ia menuturkan, penanganan anak dalam masa usia emas (golden age) tak bisa dianggap enteng karena dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak dan fisik anak bersangkutan. "Ikuti saja nasihat Ibu Wismi, karena dia lebih ahli di bidangnya. Suatu persoalan yang ditangani oleh ahlinya akan membuahkan hasil yang baik pula," kata Fatimah, yang lantas disambut anggukan rekan bicaranya itu.
Kedua ibu itu kemudian menyongsong anaknya masing-masing dengan raut muka ceria. Wati mencium putranya dan langsung membawanya ke mobil yang baru saja tiba menjemputnya. Sekolah Al-Falah didirikan di lahan seluas 1,4 hektare di Jalan Kelapa Dua Wetan Nomor 4, Jakarta Timur. Sekolah tersebut beroperasi sejak 1996. Di situ ada pendidikan pra-Taman Kanak-Kanak (TK) atau Kelompok Bermain (play group), TK, Sekolah Dasar (SD). Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Khusus untuk usia dini, Al-Falah mencatat ada 86 anak yang ditangani 26 guru.

"Di sekolah ini kita berdoa, hidup, belajar, bekerja dan bermain bersama. Anak dikenalkan membuat rencana, melaksanakannya dan membuat dokumentasi dari apa yang mereka pelajari," kata Ibu Wismi, yang tiap hari selalu memantau perkembangan anak dari dekat. Setiap anak dikenalkan dengan metode belajar, membaca, pengalaman langsung, partisipasi aktif, mengamati, menulis dan menyelesaikan masalah, membandingkan, mendengar, mengevaluasi, dan berfikir secara kritis.
Sayangnya, orang tua siswa kepeduliannya terhadap pendidikan usia dini masih terbilang rendah. Oleh karena itu, di sekolah tersebut, pengelola dan pendidik di Al-Falah mendapat tantangan menyangkut bagaimana menyiapkan anak usia dini mampu mengembangkan potensi dirinya, dan memberikan informasi secukupnya kepada orangtua mengenai betapa pentingnya anak bagi masa depan dan harus ditangani secara benar dan tepat.

Untuk itu, Wismi mengimbau, agar di satu sisi masalah sosialisasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lebih digalakan lagi. Di sisi lain, ia mengemukakan, harus diakui bahwa komitmen pemerintah meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) PAUD cukup tinggi. Naiknya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007 senilai Rp221 miliar menjadi dua kali lipat pada 2008 merupakan bukti nyata.

Hal itu sejalan dengan kesadaran para orangtua yang beranggapan bahwa anak adalah masa depan dan harus diberi pendidikan. Belum lagi dukungan gerakan Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Lembaga Swaday Masyarakat (LSM) turut mendorong tumbuhnya kesadaran para orangtua untuk ambil bagian dalam pendidikan usia dini. Pentingnya peran PAUD di berbagai daerah kabupaten/kota menambah pesatnya kemajuan pendidikan usia dini semacam itu.

Data pada 2006 memperlihatkan, dari 28 juta anak usia 0 hingga 6 tahun ada sebanyak 73 persen (20,4 juta) anak belum memperoleh pendidikan. Sisanya, 27 persen (7,5juta) sudah mendapat pendidikan usia dini, seperti membaca dan berhitung yang dilakukan lembaga non-formal, seperti kelompok bermain dan Tempat Penitipan Anak (TPA).

Sampai 2007, sekira 46 persen dari 28 juta anak di Indonesia telah mendapat endidikan usia dini. "Ini merupakan suatu lompatan luar biasa," kata Direktur PAUD di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Gutama, di Pontianak, baru-baru ini.
PAUD, Komitmen Depdiknas Yang Masih Perlu Sosialisasi Copyright Antara News 2007, Penulis Priyambodo RH, Juni 2007. (Oleh Edy Supriatna Sjafei Jakarta)
23.23 | 0 komentar

BERITA PER KATEGORI


Categories