Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

IMAM BESAR ISTIQLAL: HADITS HAJI AKBAR PALSU

Written By Unknown on Senin, 06 Oktober 2014 | 23.42



Catatan Edy Supriatna - Jakarta, 3/10 (Antara) - Imam Besar Masid Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Yaqub mengingatkan hadits yang menyebut jika wukuf jatuh pada hari Jumat maka peristiwa tersebut merupakan haji akbar dan pahalanya sama dengan tujuh puluh kali haji adalah palsu.
        Pernyataan tersebut disampaikannya di Jakarta, Jumat terkait dengan ramainya publik membicarakan bahwa pada tahun ini adalah haji akbar.
       Ia mengimbau agar umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan. Pascasidang itsbat penetapan awal bulan Zulhijjah 1435 H, di gedung Kementerian Agama Jakarta pada 24 September 2014, sempat terdengar di antara peserta menyebut bahwa karena wukuf jatuh pada hari Jumat, maka Idul Adha tahun ini disebut sebagai haji akbar.
        Di antara wartawan bertanya kepada seorang ulama yang ikut sidang Itsbat tersebut terkait perbedaan haji akbar, haji reguler, haji khusus, haji kecil dan haji-haji lainnya.
        Bagi awak media, yang kebanyakan hanya meliput di Kementerian Agama setahun sekali - khususnya meliput sidang itsbat penetapana awal Ramadhan dan Idul Adha - tentu akan semakin bingung dengan istilah-istilah atau terminologi keagamaan seperti itu. Apa lagi jika wartawan bersangkutan hanya bermodalkan sekolah umum, tak pernah bersentuhan dengan madrasah atau pondok pesantren.
        Terminologi bidang keagamaan, wabil khusus bidang perhajian, ternyata demikian luas.
        Kini publik pun banyak menyoal haji akbar serta perbedaan dengan Idul Adha dan haji lainnya.  
   Imam An-Nawawi mengakui dan mengatakan sudah lama para ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud hari haji akbar.
        "Ada yang mengatakan, hari Arafah. Sementara Imam Malik, Imam as-Syafi'i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa haji akbar adalah hari Nahr (Idul Adha)," katanya.
        Sementara sebagian ulama menjelaskan, `dinamakan hari haji akbar, untuk membedakannya dengan haji Asghar, yaitu umrah. (Syarh Sahih Muslimkarya An-Nawawi, 9:116).
        Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa haji asghar adalah umrah. Ada juga yang mengatakan, 'Haji asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijah) dan haji akbar adalah Idul Adha'. Karena di hari Idul Adha merupakan penyempurna kegiatan manasik haji yang belum dilakukan." (Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari, 8:321).
         Berbagai laman Islam, menyimpulkan bahwa penamaan haji akbar pada dasarnya adalah untuk membedakan dengan umrah atau dengan kegiatan haji yang lain. Sehingga tidak ada hubungannya dengan wukuf yang jatuh pada hari Jumat.
        Kebetulan sekali Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menetapkan Idul Adha 1435 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu (4/10). Dengan begitu pelaksanaan wukuf di Arafah   bertepatan pada Jumat (3/10). Sebagian umat Islam ada yang percaya bahwa pelaksanaan wukuf bertepatan dengan hari Jumat itu disebut haji akbar.
        Imam Besar Masid Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Ya'qub kembali menegaskan, hadits yang menyebut bahwa jika wukuf jatuh pada hari Jumat maka pahala haji sama dengan tujuh puluh kali haji adalah "hadits maudhu" atau palsu.
        Ia mengimbau umat Islam untuk tidak mudah percaya dan ikut-ikutan. Hadits itu, ia melanjutkan, sengaja dipakai orang untuk kepentingan tertentu. Diharapkan umat Islam tidak ikut-ikutan.
        Ya'qub mengakui, istilah haji akbar memang ada. Tetapi, harus dipahami bahwa haji akbar itu adalah haji yang dilakukan dengan menjalankan wukuf di Arafah. Ibadah haji setiap tahun itu merupakan haji akbar karena wukuf adalah salah satu rukun haji. Sedangkan yang tidak wukuf disebut haji asghar atau haji kecil. "Itulah yang dimaksud umrah," ujarnya.
        Bila merujuk kepada Alquran, maka haji akbar adalah haji terakhir Rasulullah SAW atau haji wada' pada tahun ke-10 hijriyah, (QS. At-Taubah: 3). Sat itu hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat. Tetapi, "asbabun nuzul" atau sebab turunnya ayat tersebut secara substansi adalah tidak diperkenankannya lagi kaum musyrikin untuk berhaji dan melakukan thawaf sambil telanjang setelah tahun itu.
        Ya'qub menegaskan, keutamaan wukuf di Arafah pada hari Jumat adalah karena memang hari itu dalam Islam memang hari yang utama. Untuk itu diimbau kepada seluruh jamaah haji Indonesia agar tetap khusyu' melaksanakan ibadah. Serta tidak terpengaruh apapun dalam menjalankan ibadah.

23.42 | 0 komentar

MENAG: PEGANG PESAN KH AS'AD

Written By Unknown on Selasa, 17 Juni 2014 | 23.06

Catatan Edy Supriatna - Situbondo, 18/6 (Antara) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak tokoh masyarakat, ulama dan para santri untuk memegang teguh pesan pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah KH As'ad Syamsul Arifin dan meneladani sepak terjangnya.
          Selain sebagai tokoh, KH As'ad juga banyak memberi kontribusi dalam bidang pendidikan dan berdirinya NKRI, sehingga kini para alumni dari pondok Salafiyah Syafiiyah banyak berkiprah di masyarakat, kata Menag Lukman Hakim Saifuddin saat peringatan satu abad berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Selasa (17/6) malam.
          Dalam acara tersebut hadir Wakil Gubernur Jatim Saefullah Yusuf, Pimpinan Ponpes Salafiyah Syafiiyah KHR Ach Azaim Ibrahimy, Bupati Situbondo Dadang Wigiarto, Kanwil Kemenag Jatim Mahfud Shadar, Direktur Podok Pesantren Kemenag Ace Saefuddin.
          Hadir pula Cawapres Jusuf Kalla dan mantan Ketua PBNU Hasyim Muzadi bersama rombongan tim sukses Joko Widodo (Jokowi)-JK usai melakukan kampanye pemilihan presiden di kota tersebut. Ribuan santri ikut meramaikan jalannya puncak peringatan pondok tersebut.
          Lukman Hakim Saefuddin menegaskan,  KH As'ad Syamsul Arifin pernah mengingatkan kepada para santrinya bahwa  "orang yang mampu menjadi pemimpin, tidak boleh hasad,  melainkan suka mengalah dan ikhlas. Pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi dan situasi bangsa dewasa ini".
          Akhlak pesantren, menurut menag, harus  dipegang teguh baik oleh para santri maupun alumni. Terlebih ketika berkiprah di tengah masyarakat.
          Kesederhanaan, kemandirian, kesalehan dan keihklasan yang merupakan jati diri pesantren perlu dipertahankan sebagai roh pendidikan yang diaktualisasikan untuk menjawab dan menghadirkan solusi moralitas di tengah perubahan zaman, katanya.
          Ia berharap keunggulan pesantren dipertahankan dan ditingkatkan dalam konteks masa kini, sehingga tidak hanya menjadi keunggulan historis, tetapi keunggulan masa depan dalam perkembangan dunia pendidikan  Islam kontemporer yang mengedepankan kualitas, identitas dan daya saing.
   
Pahlawan Nasional
     Di bagian lain, Lukman Hakim Saifuddin memberi apresiasi kepada tokoh dan para pengajar di Ponpes Salafiyah Syafiiyah yang pada usianya yang ke-100 tahun lembaga pendidikan tersebut tetap konsisten memajukan pendidikan di daerah tersebut.
           Namun terkait dengan upaya keluarga PB NU untuk memperjuangkan agar KH As'ad Syamsul Arifin dapat ditetapkan sebagai pahlawan nasional, menurut menag, hal itu sudah sewajarnya. KH As'ad pantas diberi gelar sebagai pahlawan nasional.
           Untuk mendapat gelar sebagai pahlawan nasional, lanjut Lukman, harus melalui usulan dari anggota keluarga. Namun yang ia dengar, PBNU sudah melakukan kajian dan usulan yang bertindak atas nama keluarga agar KH As'ad diberi gelar pahlawan nasional.
          Sebelumnya, Wagub Jatim Sefullah Yusuf mengatakan, pemerintah sudah pantas memberi gelar pahlawan nasional kepada KH As'ad. Bagi keluarga gelar itu tidak penting. Bagi pondok juga tak penting. Tapi gelar itu penting bagi bangsa Indonesia.
          Pernyataan itu juga dikemukakan KH Hasyim Muzadi. Ketokohan KH As'ad, khususnya membawa umat Islam untuk meyakini Pancasila sebagai pemersatu bangsa sangat besar sekali.
          Menurut Lukman Hakim, peran Ponpes Salafiyah Syafiiyah demikian besar dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui berbagai dialog, para ulama dari daerah itu pula bisa meyakinkan umat Islam bahwa Pancasila sebagai pandangan hidup bagi bangsa Indonesia.
          Artinya, dengan upaya yang ditempuh oleh para pendiri ponpes tersebut keraguan umat Islam terhadap Pancasila tidak ada lagi. Jadi, jasa para ulama dari pondok tersebut sangat besar, katanya.
         Itulah sebabnya, kata Lukman Hakim, dirinya menyempatkan diri untuk hadir para peringatan satu abad pondok pesantren tersebut. Perjalanan dari Jakarta (dengan pesawat) ke Surabaya dan dilanjutkan dengan jalan darat ke lokasi memakan waktu 10 jam (pulang-pergi) memang terasa melelahkan.

         Tapi, peristiwa peringatan satu abad pondok pesantren itu punya nilai tinggi. 
23.06 | 0 komentar

Etnis Tionghoa Diimbau Berkontribusi Perkuat Museum Cheng Ho

Written By Unknown on Senin, 16 Juni 2014 | 21.12



Catatan Edy Supriatna - Jakarta (Antara Kalbar) - Kepala Unit Kerja Taman Budaya Tionghoa TMII (TBT-TMII) Brigjen (Purn) Tedy Jusuf mengimbau etnis Tionghoa memberikan kontribusi untuk memperkuat khasanah Museum Cheng Ho, sehingga publik semakin tahu peran dan kedudukan mereka di Tanah Air.

Baiknya jika benda bersejarah milik keluarga dapat dipinjamkan atau menyumbangkan ke manajemen Museum Cheng Ho, sehingga perbendaharaan di museum itu semakin lengkap, kata Tedy Jusuf kepada Antara di Jakarta, Senin.

Museum Cheng Ho berada di kawasan Taman Budaya Tionghoa (TBT) yang berdiri pada awal 2007. Taman Budaya Tionghoa merupakan simbol pengakuan eksistensi suku Tionghoa secara budaya dan politik.

Keberadaan Taman Budaya Tionghoa Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah TMII) mempertegas TMII sebagai laboratorium seni dan budaya bangsa; di samping secara nyata menunjukkan Indonesia adalah bangsa yang multi-etnis dan multi-ras berikut keanekaragaman seni dan budayanya.

Menurut  Brigjen (Purn) Tedy Jusuf, museum tersebut perlu diperkaya dengan benda bersejarah. Sekarang ini sudah dilengkapi lukisan dan perjalanan sejumlah tokoh etnis China yang banyak memberi kontribusi positif terhadap kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun ia merasa belum puas. Pasalnya, lukisan dan benda-benda bersejarah selain belum lengkap juga belum menggambarkan secara integral dari perjuangan etnis China di berbagai tempat di bumi Indonesia. Jadi, museum itu belum tertata apik sebagaimana banyaknya museum di berbagai negara maju.

Untuk itu ia merasa bahwa museum tersebut harus ditangani oleh seorang ahli museum. Dengan cara itu akan tergambar maksud misi dan visi kehadiran museum Cheng Ho. "Alur cerita dari perjalanan sejarah etnis China harus tergambar," ia berharap.

Pria pemilik nama Tionghoa Him Tek Ji, kelahiran Bogor, Jawa Barat, 24 Mei 1944 itu mengaku, museum ini minimal dapat menjadi inspirasi bagi kerukunan antarumat, antaretnis dan penyatuan bangsa Indonesia.

Karena itu ia terus membenahi museum tersebut dan berharap imbauannya dapat diindahkan rekan-rekannya yang kini berada di berbagai tempat. Diharapkan pula dari museum itu pula nanti generasi muda bisa memetik pelajaran. Termasuk dari banyaknya tokoh etnis Tionghoa terlibat aktif dalam sejarah Indonesia, meski mereka belum terekspose oleh publik.


21.12 | 0 komentar

Jejak Cheng Ho Sebagai Inspirasi Kerukunan





Catatan Edy Supriatna - Suasana kampung pacinan terasa kental begitu langkah kaki memasuki wilayah Taman Budaya Tionghoa Indonesia,apalagi bagi warga Jakarta yang pernah bertandang ke Singapura, Hongkong atau pun Korea Selatan, menyaksikan Taman Budaya Tionghoa pada Ahad pagi (1/3/2014) pada saat itu terasa seperti tengah bernostalgia ke negeri tirai Bambu, China.

Kala itu, iklim di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta terbebas dari mendukung dan hujan.

Jakarta, memang, dalam beberapa pekan terakhir pada awal Maret 2014 itu masih diguyur hujan dengan langit mendung. Namun, pada hari itu suasananya benar-benar cerah. Meski ada beberapa wilayah Jakarta tergenang banjir, pengunjung yang mendatangi lokasi tersebut cukup banyak.

Bangunan di wilayah itu terasa hampir menyerupai aslinya, tampak indah didukung dengan penataan taman yang apik.

Beruntung diri disadari dengan hadirnya patung Burung Garuda, yang berdiri tegak tatkala setelah pengunjung melewati lapangan atau plaza taman budaya tersebut. Di taman budaya tersebut -yang terbentang luas dengan lantai batu alam - biasa dipergunakan anak-anak bermain: bola voli, bulutangkis dan aktivitas lain yang sifatnya rekreasi.

Kehadiran patung Burung Garuda di Taman Budaya Tionghoa menyadarkan diri, bahkan seluruh pengunjung ke kawasan tersebut, bahwa lingkungan pacinan tersebut adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Taman Budaya Tionghoa Indonesia berdiri di atas lahan 4,5 hektar-yang merupakan sumbangan keluarga besar H.M. Soeharto di kawasan TMII.

Lahan tersebut kemudian dibangun sejumlah museum, mulai museum peranakan Hakka, Cengho, hingga perjuangan warga etnis Tionghoa dalam memerdekakan negeri ini dari tangan penjajah.

Patung Buru Garuda itu dibangun atas sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang berdiri gagah menghadap Paza Indonesia.

Melangkah masuk ke dalam, orang akan menyaksikan patung 12 sio di lingkungan pemondokan berarsitektur China. Tak jauh dari lokasi itu, berdiri patung kera sakti - yang ceri melegenda di kalangan etnis Tionghoa. Masih di kawasan itu pula, ada patung puteri cantik mirip patung Dewi Kwan Im yang namanya melegenda itu. Di kawasan itu, kini tengah direncanakan bangunan Museum perjuangan laskar etnis China dalam membela NKRI.

Makin jauh kaki melangkah, rasa ingin tahu akan isi sepenuhnya di kawasan itu semakin menggebu. Tak jauh dari lokasi patung kera sakti, akan dijumpai museum Chengho. Bangunannya memang terlihat sederhana, berarsitektur China, tetapi setelah masuk bisa membuat banyak orang terperanjat. Pasalnya, di dalam museum itu banyak terpajang para pejuang etnis China.

Dalam sejarah tercatat nama antara lain Oey Eng Kiat/Raden Ngabehi Widyaningrat (Lasem - Jawa Tengah), Gian Liam Nio (1901-1953, Jawa Timur), Djiauw Pok Kie (1910-1973), Sho Bun Seng (1911-2000 , Padang - Sumatera Barat), Liem Ching Gie/Abdul Malik (1911-1970, Sulawesi Selatan), Oei Pei Hin (1912-1996, Jawa Barat) dan masih banyak lagi.

Belum lagi benda keramik dan peninggalan lainnya. Bahkan batik ciri khas dari Pekalongan banyak diwarnai etnis China. Motif Batik China memang didominasi warga naga dan bunga, tetapi jika dipadukan dengan etnik Jawa, terlihat makin indah. Semua itu ada di Museum Chengho.

Gedung Museum Chengo berdiri atas sumbangan H. M. Yos Soetomo. Di dalamnya terdapat pula foto Chengho berkururan 1 x 1 meter. Seperti juga kultur China di berbagai wilaya , di bawah gambar tersebut ada tempat pembakaran shio dan tiga patung.

Pada bagian luar, kawasan Museum itu  Nampak berdiri patung Chengho menghadap danau.  Chengho atau yang juga dikenal sebagai Laksamana Zheng He, terkenal pula dengan sebutan Sam Poo Kong. Dia banyak menorehkan sejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, baik secara akulturasi maupun peradaban di Tanah Air. Namanya dikenal dan diabadikan sebagai rumah ibadah. Di Surabaya, ada Masjid Chengho. Kota Semarang punya Klenteng Sam Poo Kong dan terakhir di TMII Museum Chengho.

Kisah warga etnis China di Tanah Air yang ikut perang kemerdekaan harus diakui tak terlalu banyak tercatat dalam buku sejarah di sekolah. Ini sangat disayangkan, kata Sekretaris Jenderal Legiun Veteran Republik Indonesia Marsekal Muda (Purnawirawan) FX Soejitno. Sejatinya, jauh sebelum  Indonesia merdeka, banyak warga etnis China ikut pejuang Indonesia melawan penjajah. Sepak terjang perjuangan mereka kini harus diakui, baik dari sisi agama, ekonomi dan sosial.

  
  Museum Hakka

Khusus Museum Hakka, peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo pada Senin (6/8/2012). Museum Hakka Indonesia kini sudah berdiri megah, namun belum dilengkapi Pagoda Tujuh. Foke, sebutan Fauzi, tatkala acara peletakan batu pertama museum itu, menyebut bahwa berdirinya museum Hakka tersebut diharapkan dapat  meningkatkan suasana kehidupan yang saling menghargai dan saling menghormati.

Dulu, cerita Foke saat itu, orang Hakka dikenal sebagai salah satu suku di Cina dikenal warga yang mengedepankan pendidikan ketimbang hanya melakukan bisnis atau berdagang saja.

Kehadiran museum itu dapat sebagai sarana pembelajaran atau pendidikan. Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera sudah bertekad akan terus memberikan kontribusi bagi peningkatan kerukunan umat beragama di Jakarta, dan Indonesia pada umumnya. Lebih penting lagi adanya Museum Hakka, dapat menunjukkan semakin kuatnya kebersamaan dan toleransi sosial antarsuku dan umat beragama di Indonesia.

Ketua Pembangunan Museum Hakka, Iwan Mahatirta memberi penjelasan, museum ini dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi di areal Museum Tionghoa, TMII. Nantinya, di dalam Museum Hakka akan terdapat banyak hal seperti informasi sejarah suku Hakka, koleksi foto, lukisan, benda-benda antik asal Tionghoa dan lain sebagainya

"Foto-foto maupun benda koleksi museum ini akan menceritakan perjalanan orang-orang Hakka ke bumi Nusantara," katanya. Pembangunan museum itu diperkirakan menelan dana Rp30 miliar.

Penulis menyaksikan, di dalam museum Hakka sudah terpajang berbagai lukisan etnis China dari masa ke masa. Ada yang orang China berpakaian kotor ketika menjadi budak membangun rel kereta api hingga mengisap candu. Ada pula foto kapal Chengho dengan sejumlah pasukannya.

Solihin, salah seorang pemandu di Museum Chengho mengaku bahwa etnis China dari keturunan Hakka akan menggelar pertemuan pada akhir Juli 2014. Ia berharap, pertemuan bersejarah itu akan dapat disaksikan seluruh warga Indonesia.

Memang kehadiran Taman Budaya Tionghoa di  TMII adalah salah satu wahana guna menunjukkan  kepada masyarakat luas bahwa etnis China termasuk sejarah dan budayanya, merupakan bagian integral dalam sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

 
  Milik Indonesia

Bangunan ini dibangun untuk warga Indonesia. Jadi, milik Inddonesia. Pembangunan Taman  Budaya Tionghoa ini bertujuan untuk memamerkan artefak, foto-foto, arsitektur bangunan, taman dan lain-lain yang berkaitan dengan eksistensi suku Tionghoa di nusantara. Taman Budaya Tionghoa ini juga mempertegas toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, kata Solihin.

Sekedar catatan TMII Jakarta diresmikan pada 1975 dengan tujuan mengambarkan negara Indonesia dalam bentuk miniatur; juga untuk saling mengenal dalam rangka membina persatuan bangsa Indonesia.

Pada waktu itu, semua suku diakomodasi dalam anjungan tiap Provinsi. Setelah reformasi 1998, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) terbentuk degan tujuan menolong yang terkena kerusuhan dan berjuang untuk memperoleh hak-hak sipil sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang sah; antara lain medapatkan status sebagai salah satu suku dalam keluarga besar bangsa Indonesia.

Dengan adanya Keppes tentang penghapusan semua kebijakan tentang pri dan nonpri dan seterusnya, etnis China atau Tionghoa memperoleh haknya untuk mempunyai sebuah anjungan di TMII yang kemudian diberi nama sebagai Taman Budaya Tionghoa (TBT-TMII).

Pada tahun 2004, awalnya dimulai dengan pembebasan lahan. Lalu pada tahun 2006 dilanjutkan pembangunan sarana fisik. Taman Budaya Tionghoa (TBT)-TMII merupakan simbol pengakuan eksistensi suku Tionghoa secara budaya dan politik. Keberadaan Taman Budaya Tionghoa Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah mempertegas TMII sebagai laboratorium seni dan budaya bangsa; di samping secara nyata menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang multietnis dan multiras berikut keanekaragaman seni dan budayanya.

Kepala Unit Kerja Taman Budaya Tionghoa Taman Mini Indonesia Indah (TBT-TMII) Brigjen (Purn) Tedy Jusuf mengimbau etnis Tionghoa untuk memberikan kontribusi untuk memperkuat khasanah Museum Chengho, sehingga publik di tanah air semakin tahu peran dan kedudukan mereka di Tanah Air.

Baiknya jika benda bersejarah milik keluarga dapat dipinjamkan atau menyumbangkan ke manajemen Museum Chengho, sehingga perbendaharaan di museum itu semakin lengkap, kata Tedy Jusuf kepada Antara di Jakarta, Senin. Museum tersebut perlu diperkaya dengan benda bersejarah. Sekarang ini sudah dilengkapi lukisan dan perjalanan sejumlah tokoh etnis China yang banyak memberi kontribusi positif terhadap kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun ia merasa belum puas. Pasalnya, lukisan dan benda-benda bersejarah selain belum lengkap juga belum menggambarkan secara integral dari perjuangan etnis China di berbagai tempat di bumi Indonesia. Jadi, museum itu belum tertata apik sebagaimana banyaknya museum di berbagai negara maju.

Untuk itu ia merasa bahwa museum tersebut harus ditangani oleh seorang akhli museum. Dengan cara itu akan tergambar maksud misi dan visi kehadiran museum Chengho. "Alur cerita dari perjalanan sejarah etnis China harus tergambar," ia berharap.

Pria pemilik nama Tionghoa Him Tek Ji, kelahiran Bogor, Jawa Barat, 24 Mei 1944 itu mengaku, museum ini minimal dapat menjadi inspirasi bagi kerukunan antarumat, antaretnis dan penyatuan bangsa Indonesia.

Karena itu ia terus membenahi museum tersebut dan berharap imbauannya dapat diindahkan rekan-rekannya yang kini berada di berbagai tempat. Diharapkan pula dari museum itu pula nanti genari muda bisa memetik pelajaran. Termasuk dari banyaknya tokoh etnis Tionghoa terlibat aktif dalam sejarah Indonesia, meski mereka belum terekspose oleh publik.
21.08 | 0 komentar

MUHAMMAD SAW SUPER LEADER SUPER MANAGER

Written By Unknown on Minggu, 15 Juni 2014 | 20.18

 Catatan Edy Supriatna - Nabi Muhammad SAW memang sangat pantas menjadi sosok idola yang bisa diteladani oleh setiap manusia di mana pun berada, apa pun profesinya.

Inilah kelebihan Nabi Muhammad SAW karena Allah sendiri dengan jelas menyatakan dalam firman-Nya bahwa terdapat suri tauladan yang baik dalam diri Rasulullah SAW. Siapa pun, jika ingin sukses dunia akhirat, contohlah Rasulullah, karena Rasulullah adalah diibaratkan sebagai “Al Qur`an hidup”.

Panduan Muslim Al Quran yang merupakan firman Allah dan penerapan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari kepribadian Rasulullah SAW.

Al Quran Surat Al Ahzab ayat 21, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Di ayat lainnya, Surat Al Anbiya ayat 107, Allah juga berfirman, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Di sisi lain, perjalanan hidup nabi Muhammad SAW tak ubahnya samudra luas yang tak bertepi. Dalam dirinya terpancar “wisdom” dan hikmah yang seolah tak mungkin bisa dihitung. Hampir semua spektrum kehidupannya dari mulai pribadi, keluarga dan masyarakat merupakan suri tauladan, bagi umat muslim khususnya.

Dan keteladanan ini juga ditemukan dalam aspek bisnis, militer, budaya, dakwah, kesejahteraan, sosial politik serta hukum dan pendidikan. Nabi Muhammad saw senantiasa berusaha memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebersihan dan keindahan tubuhnya secara Islami.

Dalam hubungannya dengan sesama manusia Nabi Muhammad SAW senantiasa membiasakan diri dengan akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari akhlak tercela serta giat beramal saleh yang bermanfaat bagi orang banyak.

Mengangkat fakta Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Nio Gwan Chung atau yang lebih dikenal dengan Dr Muhammad Syafii Antonio MSc, pada akhir Januari 2011 di Jakarta, meluncurkan ensiklopedia berjudul “Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager”.

Syafii Antonio yang juga dikenal sebagai pakar ekonomi syariah itu merangkai dan menuangkan ketauladanan nabi Muhammad SAW dalam satu set ensiklopedia yang terdiri dari delapan buku (volume).

Dengan diluncurkannya ensiklopedia ini berarti Syafii Antonio telah “melahirkan” sebanyak 21 buku. Sebelumnya ekonom kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 12 Mei 1967 itu telah menulis 13 buku.

“Target pembaca buku ini adalah setiap insan yang mencintai Rasulullah SAW dan ingin lebih dalam mengenal dimensi kepemimpinan dan manajemen Rasul,” kata Doktor Banking Micro Finance dari University of Melbourne itu.

Selain dapat meneladani kepemimpinan Rasulullah, Menurut Syafii Antonio, salah satu tujuan diluncurkannya buku tersebut juga disebabkan masih sangat terbatasnya literatur yang menggali dimensi kepemimpinan dan manajemen dengan kaca mata analisa tematis dan modern.

“Dalam arti dipandang dari sudut ilmu manajemen modern dan suasana modern,” kata pimpinan Tazkia Group itu.

Untuk mendukung tujuan tersebut, maka bentuk fisik ensiklopedia yang digarap selama satu tahun ini dikemas mewah. Hard cover dengan desain lukisan bernuansa Dinasti Ottoman Turki dan Mughal India, sedangkan isi setiap volume penuh sentuhan modern yang kaya dengan gambar, lukisan, photo sketsa, inboks dan full color.

“Dengan keindahan desain diharapkan proses membaca menjadi fun dan menyenangkan,” tambah Syafii Antonio.

“Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW: Super Leader Super Manager” merupakan syarah atau tafsir dari buku yang pernah ditulis Syafii Antonio sebelumnya yang berjudul “Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager” yang dirilis pada tahun 2007.

“Buku tersebut merupakan induk, sementara ensiklopedia ini adalah syarah atau tafsirnya,” kata Syafii Antonio.

Dengan kata lain, buku ensiklopedia setebal 250 halaman itu dilengkapi dengan tambahan diagram rujukan sketsa dan data-data sejarah serta demografi lainnya.

Seperti layaknya sebuah ensiklopedia yang sifatnya luas, maka dalam satu set ensiklopedia memaparkan berbagai spektrum kehidupan dan perjuangan Rasulullah.

Ada delapan spektrum yang dikaji dalam buku itu yakni pengembangan diri, bisnis dan kewirausahaan, dakwah, keluarga, sosial politik, pendidikan, hukum, serta militer.

Dengan membaca Ensiklopedia ini, umat muslim khususnya diharapkan bisa lebih mengenal dan meneladani Rasulullah. Alhasil, hal ini akan membawa kehidupan positif bagi negara dan bangsa.

Ikon keuangan Dr.Muhammad Syafii Antonio,MEc (Nio Gwan Chung) adalah salah satu ikon keuangan dan perbankan syariah di Indonesia. Ia juga mendapat amanat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) TAZKIA.

Ia menyelesaikan program doktoral dalam Micro Finance dari University of Melbourne (2004), Master of Economics dari International Islamic University, Malaysia (1992) dan lulus sebagai sarjana syariah dari University of Jordan (1990).
Di samping itu Antonio telah melakukan visiting research di Al-Azhar University Cairo dan Oxford University, Inggris.

Melalui Batasa Tazkia Consulting, Antonio telah membantu penumbuhan lebih dari 14 Unit Usaha Perbankan Syariah dan 7 asuransi syariah serta melatih lebih dari 10,000 praktisi keuangan.

Antonio juga memimpin Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia dengan jumlah murid sekitar 1100 Mahasiswa dan 100 dosen serta civitas akademik. Melalui Tazkia Publishing dan Tazkia Book Network, Antonio telah menerbitkan 21 buku dan ensiklopedia tentang Perbankan Syariah, Leadership dan Manajemen.

Saat ini Antonio juga sebagai anggota Komite Perbankan Syariah pada Bank Indonesia, Shariah Advisory Council Bank Sentral Malaysia, serta Global Shariah Board al-Mawarid DUBAI. Antonio juga duduk sebagai Advisor/Dewan Pengawas di Bank Syariah Mandiri, Takaful, Bank Mega Syariah, Schroders Investment Manager dan PNM.

Pada tahun 2010, berdasarkan KEPPRES no 30/2010 Antonio diangkat Presiden RI sebagai anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional) suatu Badan Khusus yang bertugas memberikan rekomendasi kebijakan ekonomi nasional kepada Presiden.

KEN diketuai oleh pengusaha Nasional Chairul Tanjung dengan anggota antara lain James Ryadi, TP Rachmat, Hartati Murdaya, Sandiaga Uno, Erwin Aksa, Chatib Basri, Raden Pardede dan Aviliani.

Untuk memudahkan koordinasi kegiatannya Antonio mendirikan Andalusia Islamic Center (AIC). Suatu oase intelektual, spiritual dan komersial seluar 25,000 meter di Sentul City. AIC meliputi kampus STEI TAZKIA, Masjid Andalusia, Multi Function Hall al Hambra, Andalusia Muallaf Center dan Andalusia Commercial Center.

Atas kiprahnya Antonio dianugrahi “Syariah Award” oleh Bank Indonesia, MUI dan Bank Muamalat (2003), Anticorruption & Good Governance Award dari Kementrian Aparatur Negara (2007), Arab Asia Finance Recognition Award dari Arab Asia Finance Forum (2008) dan Australian Alumni Award dari Pemerintah Australia (2009).

Antonio adalah penerima Best Islamic Book (IBF Award, 2009), juga dipromosikan oleh Departemen Keuangan RI sebagai nominator IDB Prize dari Indonesia. (Sumber ANT)




20.18 | 0 komentar

BERITA PER KATEGORI


Categories